Saving Face


Leni terpekur didepan kaca meja rias yang sudah tua dan terbuat dari kayu jati.  Dia menantap bayangan wajahnya di depan kaca.  “Apa yang harus kulakukan? Hatinya galau memikirkan hubungannya dengan Hadi dan Lucy. Leni tahu kalau dia mencintai Lucy dan merasa kasihan dengan Hadi. Banyak teman dekatnya yang mengetahui kalau dia menjalin affair dengan Lucy. Dia tidak peduli kalau mereka mengatakan  dia suka Lucy karena uangnya. Setiap kali Leni pergi berdua dengan Hadi dia merasa telah mengkianati Lucy padahal Hadi adalah tunangannya. Leni sekarang bingung karena keluarga Hadi terus bertanya kapan mereka akan menikah? Sudah dua tahun mereka bertunangan dan sudah saatnya dia menikah. Leni terus menantap wajahnya di kaca dan bertanya tanya dalam hati.
“Bagaimana caranya aku memutuskan tali pertunangan ini?  Kira kira apa yang akan dilakukan Mama dan papa, yang pasti akan marah besar bila aku menyampaikan keinginanku ini. Mungkin mereka akan mengusirku dan tidak mengakui aku sebagai anaknya lagi. Semoga mereka tidak membunuhku”.
“Bagaimana dengan Hadi, tentu dia akan terluka. Tapi kalau diteruskan akan banyak lagi yang terluka khususnya aku”
“Mungkin sebaiknya aku bicara dengan Hadi dulu aja, baru aku bicara dengan keluargaku”

Bagi keluarga keturunan tionghoa memutuskan tali pertunangan sama dengan mencorengkan arang dimuka dan harga diri keluarga dipertaruhkan. Dan putusnya pertunangan itu akan menjadi bahan omongan keluarga besar dan kenalan. Pergulatan itu terus berputar dalam otak Leni. Leni tahu kalau dia akan melukai Hadi yang selama ini telah begitu baik dengannya.

Leni ingat ketika mereka SMA dahulu. Leni bukanlah cewek yang popular disekolahnya begitu pula dengan Hadi, malah bisa dibilang penampilan Hadi sedikit kuno. Hadi anak yang pendiam tidak banyak kawannya, bukan tipe cowok macho yang suka berantem. Mungkin bisa dikatakan cowok yang lemah lembut.Tetapi Hadi berani menyatakan cintanya ketika kelas 2 SMA. Leni merasa, dia ingin mempunyai pacar seperti teman lainnya. Leni menikmati masa pacarannya apalagi sejak itu selalu ada yang mengantar jemputnya kemanapun dia ingin pergi, ada yang mengajak  nonton, makan atau sekedar jalan jalan. Hubungan mereka berlanjut sampai mereka kuliah. Meskipun tidak satu jurusan dan satu kampus. Leni kuliah hukum sedangkan Hadi kuliah arsitektur. Banyak hal yang sudah mereka lalui bersama, khususnya ketika Leni terlambat datang bulan dan ketika ditest ternyata positif. Waktu itu Hadi ingin bertanggung jawab dan Leni bersikeras untuk menggugurkan kandungannya. Dia tidak ingin menikah sementara Hadi belum bekerja dan mereka masih semester empat. Mereka berdua panic dan berusaha menggunakan segala cara untuk menggugurkan kandungan. Mulai meminum ramuan sampai mitos mitos yang pernah mereka dengar.akhirnya Hadi melalui kenalannya menemukan dokter yang bisa melakukan aborsi. Waktu itu Leni memberitahu keluarganya kalau dia ada acara keluar kota selama tiga hari. Selama proses itu Hadi dengan setia menemani dan menjaga Leni. Setelah aborsi mereka menginap di sebuah hotel untuk memulihkan kesehatan Leni dan Hadi selalu menjaga dan merawat Leni dengan baik.

Sejak kejadian aborsi itu Leni sering menolak ajakan bercinta Hadi, dan Hadi tidak pernah memaksa atau marah. Hadi memang orang yang sabar dan tidak pernah sekalipun dia marah kepada Leni. Hubungan mereka terus berjalan, Hadi memtuskan Drop out kuliah karena ada yang menawari pekerjaan sebagai desain interior dan Leni melanjutkan kuliah sampai lulus. Begitu Leni lulus kuliah, Hadi pun melamar Leni karena dia sekarang sudah bekerja. Leni pun tidak menolak, dia merasa Hadi orang yang baik, bertanggung jawab, serius dan mencintainya, Bukan itu memang kriteria seorang suami yang baik. Leni tahu kadang dia merasa bosan dengan Hadi yang tidak romantis dan cenderung dingin.
Ketika Leni bertanya “Kenapa sih, Kok kamu jarang bilang I love you sama aku?
“Kamu khan tahu kalau kamu satu satunya perempuan yang aku cintai dan kuinginkan jadi ibu anak anakku”Jawab Hadi dengan santai.
Ketika acara pertunangan berlangsung keluarga Leni dan keluarga Hadi sangat senang, Leni sendiri merasa kosong. Dia tidak merasakan apa apa dan tiba tiba dia merasa kesepian ditengah keramaian.

Leni mengisi harinya dengan bekerja keras sampai suatu hari dia berkenalan dengan Lucy, sahabat temannya. Dia tahu kalau Lucy seorang lesbian dan dia memiliki perusahaan kontraktor. Mereka sering bertemu bersama teman teman yang lain. Hadi sering diberi pekerjaan freelance oleh Lucy untuk menggambar rumah yang akan dibangun. Leni merasa lucy orang yang menyenangkan, cerdas dan baik. Leni tidak tahu sejak kapan dia jatuh cinta dengan Lucy. Leni tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan Lucy karena dia sudah bertunangan dengan Hadi. Leni tahu kalau Lucy menyukainya dan dia selalu merasa nyaman di dekat Lucy. Kadang dia merasa rindu untuk ngobrol atau bertemu dengan Lucy, perasaan yang tidak pernah dia rasakan ketika bersama Hadi. Bahkan ketika Hadi mendapat proyek di luar kota, dia tidak merasa kangen bahkan merasa senang dan bebas.  

Hubungan Leni dan Lucy semakin lama semakin dekat, ketika Lucy menawari pekerjaan sebagai asisten dan sekertari pribadi. Mereka sering berdua dan bekerja hingga larut malam. Leni selalu merasa senang berada di dekat Lucy. Lucy orangnya hangat, romantis, perhatian dan selalu menyenangkan hati Leni. Sampai suatu hari ketika perjalanan dinas ke Palembang. Lucy mengajak Leni mengajak makan malam yang romantic di sebuah restoran apung yang menghadap jembatan Ampera. Setelah selesai makan Lucy mengungkapkan perasaannya kepada Leni.
“Len, aku ingin ngomong sesuatu!”Kata Lucy tiba tiba memecahkan keheningan mereka
“Ada apa?”Tanya Leni kuatir
“Aku tahu sebenarnya, aku nggak boleh ngomong ini ke kamu. Tetapi aku sudah tidak bisa lagi menahan perasaan ini. aku nggak peduli setelah ini kamu akan membenci aku atau menghindari aku, aku nggak peduli yang penting aku sudah mengungkapkan perasaanku”Kata Lucy sambil menatap Leni yang duduk di depannya.
Leni merasa kalau Lucy akan mengatakan perasaan cintanya. Leni tidak bisa membohongi diri sendiri kalau dia juga mencintai Lucy dan menginginkannya. Leni merasa dadanya sesak dan ingin menangis menyesali pertunangannya dengan Hadi. Leni menyesal telah menerima pinangan Hadi. Waktu itu dia mengiyakan karena dia berpikir laki laki mana yang mau menerima dia yang sudah tidak perawan dan pernah menggugurkan kandungan untuk dijadikan isteri. Sekarang Lucy akan mengungkapkan perasaannya meskipun tahu keadaannya dan bisa menerima dia apa adanya dan dia tidak tahu apakah harus menerima atau bagaimana. Tanpa sadar Leni menitikkan air matanya. Melihat Leni menangis, Lucy jadi panik. Dia langsung duduk disebelah Leni.
“Hei, kenapa menangis? Maafkan aku ya! Aku tidak seharusnya membuat kamu seperti ini” Kata Lucy dengan lembut dan mengusap air mata Leni.
Leni semakin menangis mendapat perlakuan Lucy yang begitu lembut. Dia menangis dalam pelukan Lucy. Lucy berusaha menenangkan Leni dan membelai rambut Leni yang panjang.
“ yuk, Kita pulang aja ya! Ajak Lucy. Leni hanya mengangguk dan berdiri.
Mereka berjalan bergandengan keluar restoran. Leni tidak peduli ketika pelayan restoran melihat mereka berdua. Malam itu untuk pertama kalinya mereka berdua bercinta. Leni merasakan sesuatu yang berbeda, dia begitu menikmati setiap sentuhan Lucy yang lembut. Leni belum pernah merasakan orgasme yang begitu luar biasa dan berkali kali seperti itu dalam bercinta. Sejak saat itu mereka selalu bercinta setiap saat. Leni makin larut pulangnya dan tidak lagi mempedulikan complain Hadi. Mereka makin sering bepergian entah karena urusan pekerjaan atau memang sengaja pergi.  Sampai suatu hari Hadi marah besar karena Leni lupa kalau hari itu ulang tahun mama Hadi dan dia sedang berada di luar kota. Hadi mengatakan kalau nanti menikah Leni tidak akan diijinkan bekerja lagi dan dia akan mempercepat rencana pernikahannya. Leni langsung terdiam waktu itu dan tiba tiba dia menjadi takut kehilangan Lucy. Lucy yang melihat perubahan wajah Leni langsung mendekat.
“ada apa? Apa yang dikatakan Hadi? Tanya Lucy sambil menggegam kedua tangan Leni.
“Dia akan melarangku bekerja dan akan mempercepat pernikahan kita”Kata Leni yang masih berusaha menenangkan diri.
Lucy memeluk Leni dan menenangkannya. Dia tidak ingin membuat Leni jadi gelisah dan takut seperti ini. Lucy berpikir dengan cepat dan segera mengambil sikap. Dengan hati hati Lucy mengatakan pada Leni.
“Sayang, apakah kamu berani memutuskan pertunanganmu dengan hadi?
Leni melepaskan pelukkannya Lucy dan menatap Lucy melihat wajah dan ekspresi nya. Mencari kesungguhan pertanyaan dimata Lucy.
“Aku memang tidak bisa menikahimu secara legal di Indonesia dan aku juga tidak bisa memberikan anak buat kamu, aku hanya bisa mencintaimu dan aku berjanji akan membahagianmu dan menjaga kamu selamanya, Kita bisa hidup bersama dengan bahagia” Kata Lucy dengan sungguh sungguh.
“Aku sudah membuatkan rumah untuk kamu sayang karena aku kuatir hal ini akan terjadi sebetulnya rumah ini buat hadiah kejutan tetapi sekarangpun nggak masalah!”Lanjut Lucy dengan tersenyum dan berusaha membuat Leni tenang.
Lucy tahu kalau Leni masih bimbang dan ragu dengan usulannya. Dia tidak berusaha memaksakan kehendaknya. Lucy ingin Leni memutuskan masalah ini memang karena dia mau dan ingin bersamanya.
“Sayang, kalau kamu takut dan nggak berani memutuskan pertunanganmu dan tetap mau menikah dengan Hadi, aku tidak akan memaksa!” Kata Lucy dengan sedih.
“Aku ingin bersamamu sayang! Kata Leni menangis dan memeluk Lucy erat erat.
Malam itu mereka tidur berpelukan dan sibuk dengan pikirannya masing masing. Lucy tahu kalau Leni akan menghadapi masalah besar dan dia tidak mungkin datang ke keluarga Leni dan melamarnya atau meminta Leni menjadi pasangannya karena itu akan memperburuk keadaan.

******
Leni mengusap air matanya, dia mulai membereskan kalung dan perhiasan lainnya pemberian Hadi waktu pertunangan. Hari ini dia akan bertemu Hadi dan akan mengembalikan semua pemberiannya. Leni sengaja meminta Hadi datang siang ini karena dirumahnya sedang tidak ada orang. Leni mendengar ada mobil masuk, Hadi sudah datang rupanya. Leni buru buru membungkus kotak perhiasan dengan tas kertas. Dia segera keluar dan menunggu di ruang tengah.
“Hi, tumben kok sepi? Tanya Hadi sambil duduk. “Ada apa kamu kok kelihatan muram? Kamu sakit ya?”Tanya Hadi penuh perhatian.
Leni menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. Bingung mencari kata untuk memulai pembicaraan.
“Had, aku ingin memutuskan pertunangan kita!” Kata Leni perlahan
“Kamu tidak sedang bercanda khan? Tanya Hadi dengan muka memerah.
Leni menggelengkan kepalanya dan menanti reaksi Hadi. Dadanya berdetak hebat, tangan dan kakinya dingin seperti es. Suasana berubah jadi tegang. Hadi menggelengkan kepalanya sambil bergumam.
“Nggak, kamu pasti bercanda!” Kita tidak mungkin putus, kita akan menikah Len!” Kata Hadi dengan mata merah menahan emosi. 
Hadi merasa dadanya sesak sekali dan akan meledak, kepalanya menjadi pusing seperti kena pukul. Dia masih tidak percaya dengan apa yang didengar. Ketika Leni menyodorkan kota perhiasan kepada Hadi. Nafas Hadi langsung memburu dan dia langsung membanting kotak perhiasan di meja dengan marah dia berkata.
“Kenapa Len!” Kata Hadi tertunduk dan meremas rambutnya dengan dua tangannya.
Hadi kelihatan terpukul dan berusaha untuk tidak menangis di depan Leni. Leni hanya diam tertunduk tidak berani menatap Hadi. Leni yang selama ini selalu berkuasa atas diri Hadi, tiba tiba menjadi takut menghadapi Hadi yang sedang marah.
“Katakan, apakah ada orang lain?”Tanya Hadi dengan tatapan yang tajam seakan ingin menelan Leni. 
“Aku tahu ini pasti karena Lucy khan?” Kata Hadi dengan nada yang keras.
Leni masih diam tidak menjawab, dia tidak ingin menambah kemarahan Hadi dan dia juga tidak ingin Lucy disalahkan. Ini keputusan dia sendiri. Dia yang menginginkan putus hubungan dengan Hadi dan Lucy tidak pernah memaksa dia untuk melakukan ini. Tiba tiba Leni menjadi marah.
“Nggak usah bawa orang lain!” Kata Leni dengan ketus.
“O..Jadi kamu masih mau membela lesbian Itu!”teriak Hadi dengan marah.
“Selama ini aku berusaha diam dan menutup telingaku mendengar gunjingan orang orang, rupanya memang benar! “Kurang ajar! Ternyata dia memberiku pekerjaan hanya untuk mencuri pacarku! Diam diam dia menggunting dalam lipatan! Kata Hadi sambil memukulkan tangannya dimeja.
Leni mendiamkan segala amarah Hadi, dia berusaha menguasai emosinya. Dia merasa ini adalah keputusan yang tepat yang telah diambil jadi apapun yang terjadi akan dia hadapi.
“Apakah karena dia lebih kaya daripada aku?” Tanya Hadi sambil menatap Leni.
“Aku akan bekerja keras Len! Aku tidak akan membiarkanmu menderita! Kata Hadi
“Len, kamu itu bukan lesbian! Kita pernah hampir punya anak Len! Apa kamu lupa? Kata Hadi dengan pandangan nanar ke Leni.
“Sudahlah Had, aku capek  dan ingin segera selesai!kata Leni dengan tegas.
“Baiklah kalau itu memang maumu!”Kata Hadi sambil berdiri “Kamu kembalikan semua perhiasan itu ke orang tuaku!”Kata Hadi sambil pergi dan tanpa melihat Leni.
Leni terdiam dan hanya bisa memandang kepergian Hadi. Dari dalam rumah dia dapat mendengar derit mobil ban Hadi yang menyetir dengan ngebut. Tiba tiba dia menjadi kuatir terjadi sesuatu dengan Hadi. Kalau terjadi sesuatu dia akan merasa bersalah dan bertanggung jawab. Leni segera menelpon HP Lucy.
“Halo, sayang, kamu lagi repotkah? Tanya Leni
“Nggak gmana pertemuanmu dengan Hadi?Tanya Lucy diseberang sana.
“Dia pergi dengan marah, aku kuatir kalau terjadi apa apa dengan dia, sayang!Kata Leni.
“Nggak akan terjadi apa apa sayang, nggak usah terlalu kuatir! Dia laki laki dewasa! Kamu nggak menyesal khan memutuskan dia? Tanya Lucy yang kuatir kalau Leni menyesali keputusannya.
“Nggak, aku lega, aku lebih cemas menghadapi mama dan papa!” Jawab Leni.
“Bagaimana kalau malam ini kamu nginap dirumahku aja, nanti aku jemput”Kata Lucy.
“Iya”Kata Leni masih dalam kondisi emosi yang tidak stabil habis bertengkar dengan Hadi.
Leni belum pernah melihat Hadi marah seperti itu, bagaimanapun dia tetap takut dan jantungnya mash berdebar hebat. Leni tidak berani mengatakan pada Lucy, kalau dia merasa bersalah dan kasihan dengan Hadi. Sebetulnya tadi dia tidak tega melihat Hadi yang terpukul seperti itu.  Leni tidak tahu kenapa dia jadi menangis. Dia menyesal telah menyakiti hati Hadi. Leni terus merenungi apa yang telah terjadi dan terus memikirkan perasaan Hadi.
“Maafkan aku Had! Kata Leni sambil mencopot foto pertunangan mereka dari atas meja riasnya. “Aku tidak bermaksud seperti ini, maafkan aku kalau kamu harus terluka karena aku! “kamu akan menemukan perempuan lain yang benar benar mencintaimu dengan tulus! Kata Leni sambil mengusap airmatanya.
  
*******

Leni terdiam diatas ranjang, jantungnya berdetak hebat. Dia merencanakan untuk mengatakan kepada orang tuanya tentang putusnya pertunangan dia dengan Hadi. Dari tadi dia sms-an dengan Lucy untuk menguatkan dirinya. Lucy sendiri merasa kuatir dan cemas. Lucy merasa tak berdaya untuk membantu Lucy menghadapi ini semua sendirian. Mereka sudah mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan. Lucy sudah menyiapkan rumah untuk Leni. Mereka sudah mengisi rumah dan sudah sering menginap disana. Hari ini saat yang tepat untuk berbicara dengan mama dan papa, pikir Leni. Mereka sedang duduk santai di ruang tengah. Mama lagi nonton TV sedangkan papa baca Koran.  Leni segera jalan mendekati mereka dan duduk dikursi samping mereka.
“Sudah makan kamu? Tanya mamanya Leni sambil tetap nonton TV.
Entah kenapa Leni selalu merasa kalau mamanya tidak terlalu mencintainya. Mamanya hanya mencintai kakak Leni yang nomer satu Lina, yang menikah dengan pengusaha kaya dan adik Leni, Lisa yang lahir belakangan dan beda umur 8 tahun. Waktu kecil Leni paling sering jadi pelampiasan kemarahan mamanya dia juga selalu disuruh untuk menjaga adiknya yang masih kecil. Bahkan kalau dia pergi dengan Hadi, mama selalu meminta dia mengajak Lisa. Hanya Papanya yang mencintai Leni dan selalu merasa kasihan dengan Leni karena selalu mendapat perlakuan tidak adil.
“Sudah!” Jawab Leni dengan gelisah karena tidak tahu harus mulai dari mana.
“Ma, Pa, Leni mau ngomong !”kata Leni ragu ragu.
“Mau ngomong apa? Tanya mama Leni sambil mengecilkan suara TV dan Papa Leni melipat korannya dan meminum tehnya.
“Leni, mutuskan tunangan dengan Hadi!”Kata Leni pelan.
“Apa!”Kamu sudah gila ya! Kata mama Leni spontan. “Kamu tuh ya, kalau ngomong pake otak jangan asal ngomong! Lanjut mama Leni dengan nada mulai marah.
“Mama, nggak mau kamu mutuskan pertunanganmu dengan Hadi!” Kata mama Leni mengultimatum.
“Tapi, aku sudah memberitahu Hadi dan mengembalikan semua emas lamarannya”kata Leni pelan.
“Anak Kurang ajar! Kata mama Leni dengan marah dan memukul kepala Leni.
“Ma, Sudahlah!”Kata papa Leni langsung berdiri dan menahan mama Leni yang masih hendak menghajar Leni.
“Ini akibatnya kalau papa sering memanjakan dia!Kata Mama sambil berusaha menepis tangan papa.
Leni hanya diam dan menangis. Dia tidak berusaha menghindar dan merelakan dirinya dipukul. Karena dia juga merasa bersalah dengan mama dan papanya.
“Beraninya kamu melakukan itu! apa kata orang nanti! Mau ditaruh dimana muka keluarga ini! Siapa yang akan berani melamar adikmu nanti!Kata mama Leni dengan marah dan berteriak kepada Leni.
Adik Leni yang mendengar ribut ribut segera keluar. Dia masih bingung melihat mamanya yang sedang marah dengan kakaknya. Papa Leni menyuruh masuk ke kamar.
“Kamu itu memang anak durhaka, anak tak tahu diri, anak yang tidak bisa balas budi orang tua! Ini balasanmu sebagai anak dengan cara seperti ini, hah! Ayo jawab jangan diam aja! Kata mama Leni masih dengan meluap luap.
“Kamu pikir karena sudah bisa cari uang trus bisa seenakmu! Kamu pikir, kamu bisa bahagia dengan melawan orang tua!” “Sekarang, kamu keluar aja dari rumah ini! mama tidak mau melihat mukamu lagi disini!” Kata mama Leni mengusir
“Ma, maafkan aku, ampuni aku ma! Kata Leni sambil menangis dan bersimpu di kaki mamanya.
Mama Leni mendorongnya hingga terjatuh. Untung papa Leni masih menahan tubuh mama Leni yang masih ingin menghajarnya.
“Sudahlah Ma, ayo masuk! Kata papa Leni dan menarik isterinya ke kamar.
Leni masuk kedalam kamarnya dan menangis. Dia mengemasi pakaiannya dengan bercucuran air mata. Papa mengetuk pintu kamar Leni dan masuk.
“Kamu sebaiknya tinggal dirumah kakakmu dulu aja sampai amarah mamamu reda dan suasana tenang!Kata papa
“Maafkan Leni, pa!” Leni tidak bermaksud seperti ini, tapi Leni merasa tidak bahagia bersama Hadi!” Kata Leni sambil memeluk papanya.
Papa Leni menghela nafas dan memeluk Leni anak kesayangannya. Leni adalah anak yang paling dicintainya dari empat anak perempuannya.
“Sudahlah, semua sudah terjadi!”Kata papa dengan bijaksana.
Papa Leni jadi tidak tega melihat anak kesayangannya begitu menderita dan sedih. Dari kecil dia jarang bahagia. “Apakah sekarangpun aku harus memaksakan dia untuk tidak bahagia?”Kata papa Leni dalam hati.  
“Pa, aku nggak mau kerumah Kakak, ini alamat rumahku kalau papa mau kesana! Kata Leni memberi alamat rumah pemberian Lucy.
Papanya kelihatan kaget tapi dia segera mengambil dan dimasukan dalam sakunya. Sekali lagi dipeluk dan dicium kening Leni. Leni puteri kecilnya yang selama ini selalu menurut dan tidak pernah merepotkan keluarga atau membantah sedikitpun bila disuruh. Yang selalu menungguinya pulang kantor dan duduk di depan pintu. Papa Leni hanya bisa memandang sedih merasa seperti kehilangan anak kesayangannya. Leni segera mengakat tasnya dan menuju mobil. Dia segera menelpon Lucy dengan menangis dan sedih. Meskipun dia sudah memperkirankan hal ini akan terjadi tetapi tetap saja dia merasa sedih, takut dan merasa berdosa dengan orang tuanya. Lucy segera menyuruh dia berhenti di tempat parkir terdekat dan menjemputnya. Lucy kuatir dengan keadaan Leni yang mengendari mobil sambil menangis. Begitu melihat Lucy, Leni langsung memeluknya dan menangis. Lucy mengajak Leni masuk kedalam mobil dan mobil Leni dikendarai oleh sopir Lucy. Leni menangis sepanjang jalan dan Lucy hanya diam sambil memegang tangannya. Lucy juga merasa bersalah melihat keadaan Leni saat ini. Tapi dia berusaha tenang dan tidak ingin membebani pikiran Leni. Dia habis mengalami peristiwa yang berat.

****
Leni sudah tiga hari tidak masuk kantor, dia masih merasa sedih dan merasa bersalah dengan keluarganya. Orang tua Lucy juga mengkuatirkan keadaan Leni. Mereka juga merasa bersalah karena mereka merasa anaknya yang menjadi penyebab putusnya pertunangan Leni. Tapi orang tua Lucy tahu kalau mereka saling mencintai. Mereka merestui hubungan Leni dan Lucy. Dia meminta Lucy untuk bertanggung jawab dengan Leni dan tidak menelantarkannya. Sedangkan di keluarga Leni masih sedikit heboh. Beberapa kali kakak-kakaknya telpon dan kakaknya yang nomer satu, Lina, juga turut marah karena telah membuat keluarga malu. Katanya gara gara Leni semua orang dan kenalan suaminya juga turut bertanya hal ini. Sedangkan kakaknya yang nomer dua, Like, hanya menanyakan apakah Leni sudah yakin dengan keputusannya. Like tidak menyalahkan Leni, dia juga ingin Leni bahagia. Begitu pula dengan adiknya, Lisa. Dia mengatakan kalau dia tidak akan menikah dengan orang tionghoa tapi akan menikah dengan Bule jadi Leni nggak perlu mencemaskan dia. Lisa juga melaporkan keadaan ruamah. Katanya mama mereka masih ngomel ngomel dan marah marah. Kemarin saudara saudara mama datang dan kata mereka lebih baik putus sekarang daripada nanti menikah, punya anak dan bercerai tambah repot. Dan mereka bilang supaya memaafkan Leni. Mendengar cerita itu semua hati Leni agak tenang. Apalagi papanya tadi pagi sudah datang mengunjungi Leni sebelum berangkat ke kantor. Papanya juga sempat mengobrol dengan Lucy. Melihat puteri kesayangannya tercukupi semuanya dan tidak terlantar, papa Leni kelihatan lega dan tenang. Bahkan dia menitipkan Leni kepada Lucy untuk dijaga. Kata papa Leni mereka harus bersabar untuk menunggu hati mamanya Leni melunak dan bisa menerima mereka. Papa Leni juga berpesan untuk segera mengembalikan semua perhiasan lamarannya dengan Hadi. Hati Lucy dan Leni mulai tenang dan sedikit lega karena papa Leni sudah merestui mereka berdua meskipun tidak mengatakan secara langsung.

Leni memutuskan mengirim semua perhiasan dan selembar surat buat Hadi.

Dear Hadi,
Aku tahu kamu pasti marah, kecewa dan membenci aku saat ini dan aku harap kamu tidak menyobek surat ini sebelum selesai membacanya. Putusnya hubungan kita bukan karena kamu tapi ini semua karena aku. Kamu adalah pria terbaik dan bertanggung jawab yang pernah aku kenal. Maafkan aku telah berubah Had, perasaanku tidak sama lagi seperti dulu. Aku pikir aku mencintaimu tetapi semakin hari rasa itu semakin hambar. Aku tidak ingin membohongimu atau hidup dalam kebohongan karena kamu berhak mendapatkan kebahagian dan dicintai. Kamu berhak mendapatkan isteri yang baik yang bisa menjadi Ibu dari anak anakmu. Kamu masih bisa membangun keluarga yang bahagia. Aku berharap kamu menemukan orang lain yang aku yakin pasti jauh lebih baik daripada aku yang bisa menjadi pendampingmu.

Aku berharap suatu saat kamu bisa memaafkan aku dan kita bisa menjadi teman baik. Dan aku selalu berdoa untuk kebahagianmu. Tolong sampaikan maafku kepada mamamu dan papamu. Mungkin kamu menganggap aku pengecut atau tidak berani menghadapi keluargamu. Aku memang tidak berani Had, aku memang pengecut dan aku memang takut menghadapi keluargamu. Maafkan aku semoga kamu bisa mengerti suatu saat.

Aku berterima kasih untuk semua yang telah kau berikan kepadaku, untuk kebaikanmu, kebahagian yang pernah kau berikan, untuk cintamu, untuk pengertianmu, untuk kesabaranmu menemaniku selama ini, untuk hari hari indah yang pernah kau berikan dan kamu selalu ada buatku di masa masa sulit. Kita telah melalu banyak hal, baik yang indah, sulit atau menyedihkan. Dan aku berterima kasih untuk semuanya. Sekali lagi maafkan aku Had!

Leni

Leni melipat surat dengan menangis, bagaimanapun dia merasa bersalah karena telah menyakiti hati Hadi yang begitu baik sama dirinya. Leni hanya berpikir lebih baik dia menyakiti Hadi sekarang daripada berlarut larut sampai mereka menikah. Setidaknya Hadi masih punya kesempatan menemukan orang lain. Dia memasukan surat kedalam kotak perhiasan dan meminta sopir Lucy untuk mengantar ke rumah Hadi. Leni cuma bisa berharap semua akan baik baik dan masalah ini segera berlalu.

*******

Leni menghela nafas panjang setelah membaca sms dari Novi sahabatnya mulai dari SMA. Pesan singkat Novi : Len, kamu tahu nggak kalo semalem Hadi ditangkap Polisi krn pesta sabhu.
“Apakah aku harus bertanggung jawab dengan semua kesalahan Hadi? Tanya Leni dalam Hati. Apakah aku harus merasa bersalah dengan keadaan Hadi?
Sudah sepuluh tahun Leni berpisah dengan Hadi tapi masih saja Leni sering merasa harus  bertanggung jawab dengan keadaan Hadi. Leni termenung dan menatap HP nya.
“Sampai kapan aku harus merasa seperti ini? bukankah dia harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri? Kenapa aku selalu merasa aku ikut menanggung semua kegagalan Hadi? “Aku harus menghentikan perasaan ini, sudah saatnya aku melepaskan semua beban ini! dia laki laki dewasa dan dia bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Cukup sudah 10 tahun ini aku memelihara perasaan bersalah, sudah saatnya aku melepaskannya!Kata Leni dalam hati.
Leni membaca sekali lagi sms Novi dan menghapusnya. Dia tidak ingin membalas atau berkomentar apapun. Dia memutuskan untuk tidak peduli dan melupakan masa lalunya.
“Sayang…! Kamu sudah siap belum? Tanya Lucy dari luar Kamar.
“Iya sebentar! Jawab Leni dan memberekan dandannya.
Leni segera keluar kamar dan melihat Lucy sudah menunggu di Meja makan sambil membaca Koran Bisnis. Dia menurunkan korannya ketika mendengar langkah Leni mendekat.
“Wah cantik sekali kamu sayang! Kata Lucy sambil berdiri dan memeluk Leni.
“Makasih! Kata Leni sambil tersenyum.
Malam ini adalah malam tahun baru Imlek dan mereka akan pergi makan bersama dengan keluarga Leni. Sudah lima tahun ini mereka selalu ikut acara makan malam bersama keluarga Leni. Mama Leni sudah memaafkan Leni, sejak adik Leni menikah dengan pria pernacis, Frederic, dan memiliki satu anak. Lisa mendapat beasiswa sekolah di Belanda dan disana dia bertemu Frederic, asisten dosen. Mereka berpacaran dan akhirnya menikah setelah Lisa lulus kuliah dan Mereka tinggal di Belanda. Meskipun awalnya Mama Leni keberatan tetapi akhirnya setuju karena takut nanti puterinya tidak akan menikah dengan pria manapun. Pada pernikahan Lisa itulah untuk pertama kalinya Leni dan Lucy datang bersama, bertemu Mama Leni. Malam ini Lisa dan suaminya ikut makan malam bersama, mereka datang beberapa hari yang lalu. Leni merasa bahagia dengan semua yang dia miliki. Dia menatap Lucy yang duduk disampingnya mengemudi mobil mereka dengan perasan bahagia. Dia ingin menikmati hidupnya dan tidak lagi memikirkan Hadi. Dia memutuskan untuk mengubur masa lalunya dan menjalani masa depannya dengan semangat baru.  

ditulis oleh poedji


1 comment:

  1. sampai nangis aq bacanya kak.....
    apakah akhir crita hidupku jg seperti itu..???
    aku tdk mungkin membatalkan pertunanganku, karna tanggal pernikahan sdh di tetapkan....

    di sisi lain aku juga bisa merasakan begitu tersiksanya perempuanku atas keadaanku saat ini....aku juga tdk tahu...bahkan aku tidak pnh kenal siap calon suamiku....perjodohan sebelah pihak, tanpa persetujuan dariku benar² membuatku tersiksa....-curcol-

    'Susan Adeline'

    ReplyDelete